Narasi mahabarata adalah sebuah cerita runtuh temurun yang berusul dari India, cerita ini diambil dari sebuah kitab. Kisah Mahabarata kini diangkat kedalam sebuah layar gelas dan dibanjiri penggemar. Tetapi di tanah Jawa sendiri terdapat kisah dengan inti yang sama berjudul Kakawin Baratayuda yang ditulis oleh Mpu Sedah atas perintah Pangeran Jayabaya berbunga Kekaisaran Kediri. Cerita tersebut dahulu disajikan kepada masyarakat setempat menunggangi wayang kulit laksana media bakal bercerita. Sungguhpun mempunyai inti nan setolok, Mahabarata mempunyai perbedaan antara versi India dan versi Indonesia. perbedaan yang terdapat pada kedua versi ini ialah ibarat berikut. 1. Status Drupadi Takdirnya pada versi India diceritakan bahwa Drupadi ialah gendak berbunga kelima pandawa, intern versi Jawanya drupadi merupakan Ulam-ulam berpunca Yudhistira seseorang. Adaptasi ini dilakukan karena poliandri merupakann hal yang benar-etis pantangan lebih lagi pada masyarakat Indonesia momen ini. 2. Senjata Bima SourceBukupelajaran bahasa Jawa itu menarik perhatian Uhlenbeck sehingga Uhlenbeck menulis artikel "Review Article-Rapport Critique, Elinor C. Horne: Beginning Javanese". Artikel itu imuat di jurnal Lingua 12:69-86. Buku pelajaran bahasa Jawa untuk mahasiswa berbahasa Inggris karya Horne ini belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia atau Jawa. Mulabukane Perang Baratayudha Sadurunge mandhita BegawanAbiyasa kuwi Ratu Ngastina jejuluh Prabu Kresna Dwipayana duwe anak telu, Raden Destarastra, Raden Pandhudewanata lan Raden Widura. Raden Destarastra mripale wuta. Raden Pandhu gulune lengeng. Raden Widura sikile gejik. Anake ratu Ngestina telu-telune cacat. Gandheng Raden Destarastra wuta mula ora dadi ratu. Sing madeg ratu Raden Pandhu. Jejuluke Prabu Pandudewanata. Prabu Pandhu duwe anak lima lanang kabeh, mula dijenengi Pandhawa lima. Pambarepe Raden Punta, panenggake Raden Bratasena, penengahe Raden Janaka banjur kembar Raden Pinten lan Raden Tangsen. Raden Destarastra duwe anak satus dijenengi sata kurawa. Tegese kurawa cacah satus, lanang 99 lan wadon siji jenenge Dewi Dursilawati. Pambarepe Raden Jaka Pitana utawa suyudana. Nomer loro Raden Pursasana, Raden Kartamarma, Raden Durmagati, Raden Citaraksa lan Raden Citraksi. Prabu Pandhu mati nalika Pandhawa isih cilik-cilik. Mula keprabon Ngastina banjur dipasrahake marang adipati Dhestarastra minangka Prabu Wakil. Sang Prabu wakil banjur wisuda Raden Jaka Pitana dadi ratu Ngastina jejuluke Prabu Duryudana. Nalika Pandhawa wis gedhe, Raden Puntha wis dadi ratu ing ngamarta. Najan wis dadi ratu,Prabu Puntadewa tetep njaluk baline keraton Ngastina. Para kurawa ora ngulungake. Pungkasane dadi perang gedhe kang diarani perang Barathayudha. Perang rebutan warisan jalaran padha murkane. Prabu Duryudana murka ora gelem mbalekake. Negara Ngastina sanajan mung dijaluk separo negara. Prabu Puntadewa ya murka, wis duwe negara isih kemelikan njaluk negara warisan. Pungkasane perang Barathayudha, para Kurawa mati kabeh kari putune siji aran Raden Parikesit. Sedulur tunggal embah Kurawa lan Pandhawa ora kena kanggo tuladha. Jalaran paten-patenan mung amarga rebutan warisan. Kamangka jeneng sedulur mono kudu rukun. Kaya unen-unen kuna âRukun Agawe santosa. Crah agawe bubrahâ MasukDaftar. meja kayu tempered glass iphone 11 new era lem sepatu redmi note 10 kardus besar. Tokopedia; Cerita Bahasa Jawa
PERANG BARATAYUDA Baratayuda, adalah istilah yang dipakai di Indonesia untuk menyebut perang besar di Kurukshetra antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Perang ini merupakan klimaks dari kisah Mahabharata, yaitu sebuah wiracarita terkenal dari India. Baratayudha merupakan nama dari sebuah peperangan antara Kurawa dan pandawa. Kata âBarataâ sendiri yang berarti Perang dan âYudhaâ yang berarti keluarga, jadi Barata Yudha Adalah âperang kuluargaâ. Istilah Baratayuda berasal dari kata Bharatayuddha Perang Bharata, yaitu judul sebuah naskah kakawin berbahasa Jawa Kuna yang ditulis pada tahun 1157 oleh Mpu Sedah atas perintah Maharaja Jayabhaya, raja Kerajaan Kadiri. Sebenarnya kitab baratayuda yang ditulis pada masa Kediri itu untuk simbolisme keadaan perang saudara antara Kerajaan Kediri dan Jenggala yang sama sama keturunan Raja Erlangga . Keadaan perang saudara itu digambarkan seolah-olah seperti yang tertulis dalam Kitab Mahabarata karya Vyasa yaitu perang antara Pandawa dan Kurawa yang sebenarnya juga keturunan Vyasa sang penulis Kisah Kakawin Bharatayuddha kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Jawa Baru dengan judul Serat Bratayuda oleh pujangga Yasadipura I pada zaman Kasunanan Surakarta. Di Yogyakarta, cerita Baratayuda ditulis ulang dengan judul Serat Purwakandha pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana V. Penulisannya dimulai pada 29 Oktober 1847 hingga 30 Juli 1848. Sama halnya dengan versi aslinya, yaitu versi Mahabharata, perang Baratayuda merupakan puncak perselisihan antara keluarga Pandawa yang dipimpin oleh Puntadewa atau Yudistira melawan sepupu mereka, yaitu para Korawa yang dipimpin oleh Duryudana. Akan tetapi versi pewayangan menyebut perang Baratayuda sebagai peristiwa yang sudah ditetapkan kejadiannya oleh dewata. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan akan terjadi. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan berlokasi di India, melainkan berada di Jawa, tepatnya di dataran tinggi Dieng. Dengan kata lain, kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa. Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti, Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih Gendari, kenapa yang dipilih Gendari? Karena sekali lagi Dretarastra buta, ia tidak dapat melihat apapun, jadi ketika ia memilih ketiga putri itu yang dengan cara mengangkat satu per satu, terpilih lah Gendari yang mempunyai bobot paling berat, sehingga Dretarastra berpikir bahwa kelak Gendari akan mempunyai banyak anak, sama seperti impian Dretarastra. Hal ini membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Gendari merasa ia tak lebih dari piala bergilir. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu. Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk selalu memusuhi anak-anak Pandu. Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa mereka selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya tidak jauh berbeda dengan versi Mahabharata, antara lain usaha pembunuhan Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai perebutan Kerajaan Amarta melalui permainan dadu. Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai orang rakyat jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Sebenarnya Yudhistira Saudara sulung dari Pandhawa, hanya menginginkan 5 desa saja untuk dikembalikan ke pandhawa. Tidak utuh satu Amarta yang dituntut. tetapi Korawa pun tidak sudi memberikan satu jengkal tanah pun ke pandhawa. Akhirnya keputusan diambil lewat perang Baratayuda yang tidak dapat dihindari lagi. Kitab Jitabsara Dalam pewayangan Jawa dikenal adanya sebuah kitab yang tidak terdapat dalam versi Mahabharata. Kitab tersebut bernama Jitabsara berisi tentang urutan siapa saja yang akan menjadi korban dalam perang Baratayuda. kitab ini ditulis oleh Batara Penyarikan, atas perintah Batara Guru, raja kahyangan. Kresna raja Kerajaan Dwarawati yang menjadi penasihat pihak Pandawa berhasil mencuri kitab tersebut dengan menyamar sebagai seekor lebah putih. Namun, sebagai seorang ksatria, ia tidak mengambilnya begitu saja. Batara Guru merelakan kitab Jitabsara menjadi milik Kresna, asalkan ia selalu menjaga kerahasiaan isinya, serta menukarnya dengan Kembang wijayakusuma, yaitu bunga pusaka milik Kresna yang bisa digunakan untuk menghidupkan orang mati. Kresna menyanggupinya. Sejak saat itu Kresna kehilangan kemampuannya untuk menghidupkan orang mati, namun ia mengetahui dengan pasti siapa saja yang akan gugur di dalam Baratayuda sesuai isi Jitabsara yang telah ditakdirkan dewata. Aturan Peperangan Jalannya perang Baratayuda versi pewayangan sedikit berbeda dengan perang versi Mahabharata. Menurut versi Jawa, pertempuran diatur sedemikian rupa sehingga hanya tokoh-tokoh tertentu yang ditunjuk saja yang maju perang, sedangkan yang lain menunggu giliran untuk maju. Sebagai contoh, apabila dalam versi Mahabharata, Duryodhana sering bertemu dan terlibat pertempuran melawan Bimasena, maka dalam pewayangan mereka hanya bertemu sekali, yaitu pada hari terakhir di mana Duryudana tewas di tangan Bima. Dalam pihak Pandawa yang bertugas mengatur siasat peperangan adalah Kresna. Ia yang berhak memutuskan siapa yang harus maju, dan siapa yang harus mundur. sementara itu di pihak Korawa semuanya diatur oleh para penasihat Duryudana yaitu Bisma, Durna dan Salya. Pembagian babak Di bawah ini disajikan pembagian kisah Baratayuda menurut versi pewayangan Jawa. Babak 1 Seta Gugur Babak 2 Tawur Bisma Gugur Babak 3 Paluhan Bogadenta Gugur Babak 4 Ranjapan Abimanyu Gugur Babak 5 Timpalan Burisrawa Gugur atau Dursasana Gugur Babak 6 Suluhan Gatotkaca Gugur Babak 7 Karna Tanding Babak 8 Rubuhan Duryudana Gugur Babak 9 Lahirnya Parikesit Jalannya pertempuran Karena kisah Baratayuda yang tersebar di Indonesia dipengaruhi oleh kisah sisipan yang tidak terdapat dalam kitab aslinya, mungkin banyak terdapat perbedaan sesuai dengan daerah masing-masing. Meskipun demikian, inti kisahnya sama. Babak pertama Dikisahkan, Bharatayuddha diawali dengan pengangkatan senapati agung atau pimpinan perang kedua belah pihak. Pihak Pandawa mengangkat Resi Seta sebagai pimpinan perang dengan pendamping di sayap kanan Arya Utara dan sayap kiri Arya Wratsangka. Ketiganya terkenal ketangguhannya dan berasal dari Kerajaan Wirata yang mendukung Pandawa. Pandawa menggunakan siasat perang Brajatikswa yang berarti senjata tajam. Sementara di pihak Kurawa mengangkat Bisma Resi Bisma sebagai pimpinan perang dengan pendamping Pendeta Drona dan prabu Salya, raja kerajaan Mandaraka yang mendukung Korawa. Bisma menggunakan siasat Wukirjaladri yang berarti "gunung samudra." Balatentara Korawa menyerang laksana gelombang lautan yang menggulung-gulung, sedang pasukan Pandawa yang dipimpin Resi Seta menyerang dengan dahsyat seperti senjata yang menusuk langsung ke pusat kematian. Sementara itu Rukmarata, putra Prabu Salya datang ke Kurukshetra untuk menonton jalannya perang. Meski bukan anggota pasukan perang, dan berada di luar garis peperangan, ia telah melanggar aturan perang, dengan bermaksud membunuh Resi Seta, Pimpinan Perang Pandawa. Rukmarata memanah Resi Seta namun panahnya tidak melukai sasaran. Setelah melihat siapa yang memanahnya, yakni seorang pangeran muda yang berada di dalam kereta di luar garis pertempuran, Resi Seta kemudian mendesak pasukan lawan ke arah Rukmarata. Setelah kereta Rukmarata berada di tengah pertempuran, Resi Seta segera menghantam dengan gada pemukul Kyai Pecatnyawa, hingga hancur berkeping-keping. Rukmarata, putera mahkota Mandaraka tewas seketika. Dalam peperangan tersebut Arya Utara gugur di tangan Prabu Salya sedangkan Arya Wratsangka tewas oleh Pendeta Drona. Bisma dengan bersenjatakan Aji Nagakruraya, Aji Dahana, busur Naracabala, Panah kyai Cundarawa, serta senjata Kyai Salukat berhadapan dengan Resi Seta yang bersenjata gada Kyai Lukitapati, pengantar kematian bagi yang mendekatinya. Pertarungan keduanya dikisahkan sangat seimbang dan seru, hingga akhirnya Bisma dapat menewaskan Resi Seta. Bharatayuddha babak pertama diakhiri dengan sukacita pihak Korawa karena kematian pimpinan perang Pandawa. Babak Kedua Setelah Resi Seta gugur, Pandawa kemudian mengangkat Drestadyumna Trustajumena sebagai pimpinan perangnya dalam perang Bharatayuddha. Sedangkan Bisma tetap menjadi pimpinan perang Korawa. Dalam babak ini kedua kubu berperang dengan siasat yang sama yaitu Garudanglayang Garuda terbang. Dalam pertempuran ini dua anggota Korawa, Wikataboma dan kembarannya, Bomawikata, terbunuh setelah kepala keduanya diadu oleh Bima. Sementara itu beberapa raja sekutu Korawa juga terbunuh dalam babak ini. Diantaranya Prabu Sumarma, raja Trigartapura tewas oleh Bima, Prabu Dirgantara terbunuh oleh Arya Satyaki, Prabu Dirgandana tewas di tangan Arya Sangasanga anak Setyaki, Prabu Dirgasara dan Surasudirga tewas di tangan Gatotkaca, dan Prabu Malawapati, raja Malawa tewas terkena panah Hrudadali milik Arjuna. Bisma setelah melihat komandan pasukannya berguguran kemudian maju ke medan pertempuran, mendesak maju menggempur lawan. Atas petunjuk Kresna, Pandawa kemudian mengirim Dewi Wara Srikandi untuk maju menghadapi Bisma. Dengan tampilnya prajurit wanita tersebut di medan pertempuran menghadapi Bisma. Bisma merasa bahwa tiba waktunya maut menjemputnya, sesuai dengan kutukan Dewi Amba yang tewas di tangan Bisma. Bisma gugur dengan perantaraan panah Hrudadali milik Arjuna yang dilepaskan oleh istrinya, Srikandi. Kutipan dari Kakawin Bharatayuddha Kutipan di bawah ini mengambarkan suasana perang di Kurukshetra, yaitu setelah pihak Pandawa yang dipimpin oleh Raja Drupada menyusun sebuah barisan yang diberi nama âGarudaâ yang sangat hebat untuk menggempur pasukan Korawa. Kutipan Terjemahan Ri huwusirĂâą pinĂ jĂ dĂ© sang wĂrĂâą sirĂâą kabĂšh, ksana rahinĂâą kamantyan mangkat sang Drupada sutĂâą, tka marĂÂȘpatatingkah byĂ hĂÂnung bhayĂâą bhisamĂâą, ngarani glarirĂšwĂÂȘh kyĂÂti wĂrĂâą kagĂâąpati Setelah selesai dipuja oleh ksatria semuanya, maka pada siang hari berangkatlah Sang Raja putera Drupada, setibanya telah siap mengatur barisan yang sangat membahayakan, nama barisannya yang berbahaya ialah âGarudaâ yang masyur gagah berani Drupada pinakĂâą tĂÂȘndas tan len PĂÂrtha sirĂâą patuk, parĂâą Ratu sirĂâą prsta Ă âșrĂ DharmĂÂtmaja pinuji, hlari tĂÂȘngĂÂȘnikĂ sang Drstadyumna sahĂâą balĂâą, kiwĂâą pawanĂâą sutĂ kas kocap Satyaki ri wugat Raja Drupada merupakan kepala dan tak lain Arjuna sebagai paruh, para Raja merupakan punggung dan Maharaja Yudistira sebagai pimpinan, sayap bagian kanan merupakan Sang Drestadyumna bersama bala tentara, sayap kiri merupakan Bhima yang terkenal kekuatannya dan Satyaki pada ekornya Ya tĂâą tiniru tkap Sang Ă âșrĂ Duryodhana pihadhan, Sakuni pinakĂâą tĂÂȘndas manggĂÂȘh Ă ĆĄĂÂlya sirĂâą patuk, dwi ri kiwa ri tĂÂȘngĂÂȘn Sang BhĂsma Drona panalingĂâą, Kuru pati SirĂâą prstĂâą dyah DuĂ âșĂ âșĂÂsana ri wugat Hal itu ditiru pula oleh Sang Duryodana. Sang Sakuni merupakan kepala dan ditetapkan Raja Madra sebagai paruh, sayap kanan kiri adalah Rsi Bhisma dan pendeta Drona merupakan telinga, Raja Kuru merupakan punggung dan Sang Dursasana pada ekor Ri tlasirĂâą matingkah ngkĂ ganggĂ sutĂâą numaso, rumusaki pakekesning byuhĂâ pĂÂndawĂâą pinanah, dinasĂâą gunĂâą tkap Sang PĂÂrthĂÂng laksĂâą mamanahi, linudirakinambah de Sang BhĂma kasulayah Setelah semuanya selesai mengatur barisan kala itu Rsi Bhisma maju ke muka, merusak bagian luar pasukan Pandawa dengan panah, dibalas oleh Arjuna berlipat ganda menyerang dengan panah, ditambah pula diterjang oleh Sang Bima sehingga banyak bergelimpangan KarananikĂâą rusĂÂk syuh norĂ paksĂâą mapuliha, pirĂâą ta kunangtusnyang yodhĂÂgal mati pinanah, Kurupati Krpa Ă ĆĄalya mwang DuĂ âșĂ âșĂÂsana Ă ĆĄakuni, padhĂâą malajĂÂȘngumungsir BhĂsma Drona pinakĂâą toh Sebab itu binasa hancur luluh dan tak seorang pun hendak membalas, entah berapa ratus pahlawan yang gugur dipanah, Raja Kuru â Pendeta Kripa â Raja Salya â dan Sang Dursasana serta Sang Sakuni, sama-sama lari menuju Rsi Bhisma dan Pendeta Drona yang merupakan taruhan Niyata laruta sakwĂšhning yodhĂ sakuru kula, ya tanangutusa sang Ă âșrĂ BhĂsma Drona sumuruda tuwi pĂÂȘtĂÂȘngi wĂÂȘlokning rĂšnwa ngdĂ© lĂÂȘwu wulangun, wkasanawa tkapning rah lumrĂ madhĂÂȘmi lebĂ Niscaya akan bubar lari tunggang langgang para pahlawan bangsa Kaurawa, jika tidak disuruh oleh Rsi Bhisma dan Pendeta Drona agar mereka mundur, ditambah pula keadaan gelap karena mengepulnya debu membuat mereka bingung tidak tahu keadaan, akhirnya keadaan terang karena darah berhamburan memadamkan debu Ri marinika ptĂÂȘng tang rah lwir sĂÂgara mangĂÂȘbĂÂȘk, maka lĂÂȘtuha rawisning wĂrĂÂh mĂÂti mapupuhan, gaja kuda karanganya hrĂ ng jrah pĂÂndanika kasĂÂȘk, aracana makakawyang Ă âșĂÂrĂ tan wĂÂȘdi mapulih Setelah gelap menghilang darah seakan-akan air laut pasang, yang merupakan lumpurnya adalah kain perhiasan para pahlawan yang gugur saling bantai, bangkai gajah dan kuda sebagai karangnya dan senjata panah yang bertaburan laksana pandan yang rimbun, sebagai orang menyusun suatu karangan para pahlawan yang tak merasa takut membalas dendam Irika nasĂâmu kĂ©pwan Sang PĂÂrthĂÂrddha kaparihain, lumihat i paranĂÂthĂÂkwĂšh mĂÂting ratha karunna, nya Sang Irawan anak Sang PĂÂrthĂÂwĂÂs lawan Ulupuy, pĂÂȘjah alaga lawan Sang ĂâĄrĂÂȘnggi rĂÂkshasa nipunna Ketika itu rupanya Arjuna menjadi gelisah dan agak kecewa, setelah ia melihat Raja-Raja yang secara menyedihkan terbunuh dalam keretanya, di sanalah terdapat Sang Irawan, anak Sang Arjuna dengan Dewi Ulupi yang gugur dalam pertempuran melawan Sang Srenggi, seorang rakshasa yang ulung
Ringkasancerita timun mas dalam bahasa jawa ngoko. Cerita timun mas dalam bahasa jawa, artikel lengkap, cerita timun mas dalam bahasa jawa. Cerita Rakyat Dalam Bahasa Jawa Yang Imajinatif Di yogyakarta, cerita baratayuda ditulis ulang dengan judul serat purwakandha pada masa pemerintahan sri sultan hamengkubuwana v. Cerita timun mas dalam bahasa jawa.Perang Baratayuda adalah istilah di Indonesia untuk menyebut laga besar di Kurukshetra, sebagai klimaks perseteruan antara Pandawa dan Kurawa. Pihak Kurawa yang berambisi untuk menguasai Astinapura, melakukan segala cara untuk menyingkirkan Pandawa yang sebenarnya merupakan saudara mereka sendiri. Namun semua usaha tersebut gagal, sehingga meletuslah peperangan 18 hari di padang Kurusetra yang melibatkan banyak kerajaan India masa lampau. Makin penasaran dengan seluk-beluk pertikaian dua kubu dalam trah keluarga Baratha, yang menjadi bagian dari sejarah kelahiran mereka? Ikuti penjabaran dan pengertian selengkapnya berikut ini, yuk! Sejarah Perang Baratayuda1. Latar Belakanga. Persyaratan Satyawatib. Dendam Gandaric. Konflik pada Masa Kanak-Kanakd. Percobaan Pembunuhan Pandawae. Keberadaan Drupadi dan Kesalahan Yudistiraf. Pengasingan Pandawa2. Upaya Membatalkan Baratayuda3. Pertemuan Arjuna dan Duryudana dengan Krishna4. Ikrar Janji dari Salya5. Rumusan Peraturan Dharmayuddha6. 100 Lilin dari Kunti7. Genderang Pertempurana. Babak Pertamab. Babak Keduac. Pahlawan dalam Perang Baratayudhad. Tawur Demi Kemenangan8. Akhir Perang Bharatayudha Intervensi KrishnaRahasia Perancangan Baratayuda oleh Para Dewa BocorTokoh-Tokoh yang Terlibat1. Kresna2. Drona3. Raja Wirata4. Bhima5. Arjuna6. Gatot KacaDampak dan Buah Kelakuan Para KesatriaPerbedaan Versi CeritaPeta Peperangan Sejarah Perang Baratayuda 1. Latar Belakang Sumber Sebagaimana versi Mahabarata, puncak perselisihan antarkeluarga ini dipimpin oleh Puntadewa atau Yudhistira dan sepupunya Duryudana. Perlu kiranya menelusuri sejarah asal muasal kelompok Pandawa dan Kurawa terlebih dulu, untuk mengetahui dan memahami penyebab Baratayuda. Penyebabnya tak bisa digambarkan secara sederhana, karena banyaknya tokoh dan faktor yang terlibat, yang menjadi akar perang ini, yaitu a. Persyaratan Satyawati Sumber Satyawati, istri kedua yang ingin dipersunting Raja Sentanu memberi syarat agar pemegang hak atas tahta Astinapura berasal dari keturunannya. Keraguan Sentanu untuk memenuhi itu diselesaikan dengan janji Bisma, yang tak akan mengklaim tahta bahkan tak akan menikah selamanya. Sumber Sentanu dan Satyawati berputra Citranggada, pengganti Sentanu menjadi Raja Kuru tetapi tewas dalam pertempuran tanpa meninggalkan istri maupun keturunan, dan Wicitrawirya. Sang adik lalu menjadi Raja Kuru dan menikahi Ambika dan Ambalika, tapi mati dalam usia muda karena penyakit paru-paru tanpa punya anak. Baru melalui perantara ritual Resi Byasa, kedua jandanya memiliki Dretarastra putra Ambika dan Pandu putra Ambalika. b. Dendam Gandari Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak Pandu membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara berbeda ke Astinapura, yaitu Kunti, Gendari, dan Madrim. Pandu mempersilakan kakaknya, Dretarastra, yang buta untuk memilih salah satu dari mereka. Kebutaan Dretarastra menyebabkannya mengangkat satu persatu ketiga putri itu untuk memilih berdasarkan berat mereka. Pilihannya jatuh kepada Gendari, karena bobot yang paling berat sesuai dengan asumsinya mengenai kemudahan melahirkan banyak anak, sesuai keinginannya. Kontan saja putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati kepada Pandu, karena tak ubahnya piala bergilir. Ia bersumpah bahwa kelak, keturunannya akan menjadi musuh bebuyutan bagi anak-anak Pandu. c. Konflik pada Masa Kanak-Kanak Sumber Sepeninggalan Pandu, anak-anaknya kian menderita karena selalu menjadi target kejahatan Kurawa. Yudhistira adalah putra tertua Dinasti Kuru yang berhak menjadi Raja sejak Amarta diserahkan oleh Dretarastra kepada sang adik âkarena kebutaannya. Ia hanya pengganti sementara sampai Yudistira dewasa, tapi 100 bersaudara Kurawa berpendapat lain karena sumpah dari sang ibu. Sumber Ada keinginan yang sangat kuat dari Duryudana, putra tertua Kurawa, terhadap takhta Dinasti Kuru. Timbullah niat-niat jahat dalam diri Duryudana untuk menyingkirkan Pandawa dan ibunya, bersama adik dari Gendari, Sangkuni. d. Percobaan Pembunuhan Pandawa Sumber Duryudana dan pamannya berusaha menyingkirkan Yudhistira bersama saudara-saudaranya dengan segala cara, termasuk melalui upaya pembunuhan. Duryudana membuat alat pesta dan istana yang mudah terbakar, lalu mengundang Pandawa serta Kunti untuk berpesta. Ia meminta mereka agar mengonsumsi minuman bercampur obat tidur di sana. Beruntung siasat mereka selalu gagal, karena Pandawa berada dalam lindungan sang paman, Widura. Dan Sri Kresna, sepupu mereka, sehingga selamat dari percobaan pembunuhan tersebut. Pandawa dan ibunya kemudian melarikan diri ke hutan dan berkelana. e. Keberadaan Drupadi dan Kesalahan Yudistira Sumber Pandawa mendengar sayembara yang diadakan di Kerajaan Pancala dalam pelarian mereka. Pemenangnya, siapapun dia, berhak menikahi putri Raja Panchala yang tak lain adalah Drupadi. Ketika Arjuna dan Bima membawa Drupadi pulang, tanpa tahu apa yang dibawa, Kunti menyuruh mereka membagi rata hadiahnya, sehingga Drupadi menjadi istri kelima Pandawa. Agar tak ada lagi pertikaian sekembalinya Pandawa, maka kerajaan Kuru dibagi menjadi dua, yaitu Astinapura untuk Kurawa, dan Kurujanggala untuk Pandawa. Kunjungan Duryudana ke istana Indraprastha mengawali kebencian dan dendamnya kepada Drupadi, karena suatu insiden. Sumber Maka disusunlah siasat licik sebagai pembalasan dendamnya melalui permainan dadu yang terus mengalahkan Yudistira, sampai mempermalukan Drupadi yang berusaha ditelanjangi oleh Dursasana. Melihat itu, kegeraman Bima memuncak dan memastikan kematian Dursasana berada di tangannya. f. Pengasingan Pandawa Kelicikan dalam permainan dadu mengakibatkan Kerajaan Amarta diambil alih Kurawa. Pandawa harus angkat kaki dari istana untuk menjalani hukuman pengasingan selama 12 tahun, dan setahun penyamaran sebagai rakyat jelata. Namun setelah berakhirnya masa pengasingan, Kurawa tetap tak mau menyerahkan kembali hak-hak para Pandawa, yaitu takhta dan wilayah Amarta. Bahkan Sri Kresna sebagai duta Pandawa yang menemui Kurawa, malah berani-beraninya dikeroyok oleh para prajurit di alun-alun, sampai-sampai terpaksa ber-Triwikrama. Akhirnya keputusan diambil lewat pertempuran, dan memicu terjadinya perang Baratayuda yang tak dapat dihindari lagi. 2. Upaya Membatalkan Baratayuda Seorang begawan bernama Surya Dadari diangkat menjadi penasehat Kerajaan Astina. Meski berada di kerajaan Duryudana, para kesatria Pandawa juga terpikat dan berguru kepadanya. Maka tercetuslah ikrar Begawan Surya Dadari untuk menyatukan Pandawa dan Kurawa. Namun upaya yang sesungguhnya merupakan niat buruk Patih Sengkuni itu mendapat perlawanan dari Kresna dan Semar. Surya Dadari sebenarnya ingin kedua pamomong Pandawa itu menjadi saksi penyatuan Kurawa dan Pandawa agar gagalkan berlangsungnya Perang Baratayuda. Namun menurut Semar, Perang Baratayuda itu tak terhindarkan, karena memang harus terjadi dan sudah kodrat. Akhirnya wujud Begawan Surya Dadari berubah menjadi dewa, lalu mengakui kesalahan yang dilakukannya. 3. Pertemuan Arjuna dan Duryudana dengan Krishna Menjelang masa-masa kian mendekati hari peperangan, pihak Kurawa dan Pandawa merasa perlu meminta dukungan Kerajaan Dwaraka. Krishna masih terlelap dalam tidurnya saat kedatangan dua keturunan leluhur Dinasti Kuru tersebut. Ketika bangun, yang tampak kali pertama oleh Krishna adalah Arjuna yang duduk dekat kakinya, baru kemudian ia melihat Duryudana di kursi dekat kepalanya. Arjuna meminta Krishna ada di pihak mereka meskipun tanpa senjata. Sementara Duryudana memilih bala tentara Dwaraka lengkap dengan persenjataannya. 4. Ikrar Janji dari Salya Saat Pandawa dan pasukannya sedang sibuk mempersiapkan perang, Salya, Penguasa Kerajaan Madradesa itu menata pasukan dalam jumlah besar untuk menggabungkan diri dengan Pandawa. Begitu terdengar oleh Duryudana, ia langsung memerintahkan pembangunan tempat peristirahatan yang indah, dan menyediakan limpahan makanan dan minuman di sepanjang jalur pasukan Salya. Karena sangat senang dengan pelayanan itu dan mengira semua itu telah diatur oleh Yudhistira, Salya beniat menghadiahi semua yang telah menyambut dia dan pasukannya. Keramahtamahan Duryudana membuat Salya terbuai lalu menjanjikan balasan. Maka Duryudana pun meminta keberpihakan Salya dan bala tentaranya sebagai balas budi. Salya tak kuasa menolak permintaan itu, dan mengabaikan cinta dan kehormatan yang sesungguhnya lebih pantas untuk para Pandawa. 5. Rumusan Peraturan Dharmayuddha Menjelang pecahnya Perang Baratayuda, ada pertemuan penting antara pihak Kurawa dan Pandawa untuk membuat deretan perjanjian penting bernama Dharmayuddha, antara lain Perang dimulai saat matahari terbit, dan harus berhenti saat matahari terbenam. Harus dilakukan satu lawan satu, dilarang mengeroyok prajurit yang sendirian. Dua kesatria diizinkan berduel pribadi, bila punya senjata atau kendaraan yang sama. Dilarang membunuh prajurit yang telah menyerahkan diri. Prajurit yang telah menyerahkan diri itu harus jadi tawanan perang atau budak. Kesatria yang tak bersenjata dilarang dilukai atau dibunuh. Prajurit yang sedang dalam keadaan tidak sadar dilarang dilukai atau bahkan dibunuh. Orang yang tak ikut ke tengah medan perang atau binatang dilarang dilukai atau bahkan dibunuh. Dilarang melukai atau bahkan membunuh dari belakang. Dilarang menyerang wanita. Ketika sedang menggunakan gada, tidak boleh memukulkannya ke bagian pinggang ke bawah. Dilarang berlaku curang atau tidak adil dalam berperang. Walau aturan-aturan ini memang telah disepakati, âsayangnyaâ tetap saja dilanggar oleh kedua belah pihak demi meraih kemenangan. 6. 100 Lilin dari Kunti Satu perkara yang membuat Duryudana dan para Kurawa lainnya ketar-ketir menjelang perang besar, karena hidup mati mereka sudah ditandai oleh ibu kandung Pandawa, Dewi Kunti. Kunti membakar 100 lilin yang tak bisa dimatikan, karena menjadi penanda setiap nyawa Kurawa yang melayang di medan perang. Gandari menangis melihat hal itu, karena tak sanggup menerima ajal kematian Duryudhana dan 99 anak lainnya di palagan Baratayudha nanti. Selama 18 hari perang berlangsung, Gendhari senantiasa menunggui lilin-lilin itu dengan setia. Apa yang dilakukan Kunti itu dilandasi rasa sakit hati atas perilaku para Kurawa yang tak adil kepada Pandawa, padahal ia selalu menahan sabar bertahun-tahun melihat perilaku mereka. 7. Genderang Pertempuran Pertempuran yang berlangsung selama 18 hari ini adalah peperangan sampai mati, maka kesatria yang berhasil mempertahankan nyawanya adalah pemenang. a. Babak Pertama Sumber Baratayudha dibuka dengan pengangkatan senapati agung atau pimpinan perang di kedua belah pihak. Pihak Pandawa mengangkat Resi Seta sebagai pimpinan perang dengan Arya Utara sebagai pendamping di sayap kanan dan Arya Wratsangka di sayap kiri. Ketangguhan ketiganya telah dikenal dan sama-sama berasal dari Kerajaan Wirata. Sumber Sementara pihak Kurawa mendaulat Bisma Resi Bisma sebagai panglima perang dengan Pandita Drona dan Prabu Salya, Raja Kerajaan Mandaraka, sebagai pendampingnya. Sumber Pasukan Pandawa yang berjumlah lebih kecil membentuk 7 divisi dengan Formasi Bajra atau Brajatikswa senjata tajam, yang memungkinkan mereka menyerang pasukan yang lebih besar. Sedangkan sebelas divisi bentukan Kurawa menggunakan siasat Wukirjaladri yang berarti âgunung samudraâ dari Bisma. Serangan balatentara Kurawa laksana gulung-gulungan gelombang lautan, sedangkan serangan pasukan Pandawa pimpinan Resi Seta bagai tusukan senjata yang langsung ke pusat kematian. Arya Utara gugur dalam babak pertama peperangan ini di tangan Prabu Salya, sedangkan Pandita Drona berhasil menewaskan Arya Wratsangka. Bersenjatakan Ajian Nagakruraya dan Dahana, Busur Naracabala serta Panah kyai Cundarawa, juga Kyai Salukat, Bisma menghadapi Resi Seta dengan Gada Kyai Lukitapati-nya, pengantar kematian bagi yang mendekatinya. Duel keduanya saling mengimbangi dan sangat seru, sampai akhirnya Bisma bisa menewaskan Resi Seta. b. Babak Kedua Sumber Gugurnya Resi Seta menyebabkan Pandawa mendaulat pimpinan perang baru, yakni Drestadyumna Trustajumena dalam Baratayudha. Sedangkan Bisma tetap memimpin batalyon Kurawa. Kedua kubu menggunakan siasat yang sama dalam babak ini, yaitu Garuda-nglayang Garuda terbang. Usai menyaksikan gugurnya para komandan pasukannya, Bisma maju ke medan pertempuran, mendesak banyak barisan, dan menggempur ratusan lawan. Kresna menunjukkan jalannya untuk mengatasi kesaktian sesepuh itu, yakni mengirim Dewi Wara Srikandi menghadapinya. Sumber Srikandi adalah seorang wanita yang berubah menjadi pria, karena itu ia digunakan sebagai tameng karena Bisma akan merasa segan untuk menyerangnya. Bisma seketika menyadari akhir dari usianya sudah dekat saat melihat sosok Srikandi, maka ia tak memberi perlawanan berarti. Arjuna memanfaatkannya dengan perantara panah Hrudadali yang dilepaskan oleh istrinya, Srikandi, hingga menembus zirah Bisma sampai ke dagingnya. Bisma masih bertahan hidup bersama ratusan panah di sekujur tubuhnya, karena memiliki anugerah yakni menentukan waktu kematian sendiri. Karenanya, Bisma masih menyempatkan diri memberi wejangan ke para cucu yang berperang, sampai menyaksikan kekalahan Kurawa. c. Pahlawan dalam Perang Baratayudha Sumber Adipati Karna yang enggan menggunakan Kuntawijayadanu saat menghadapi Gatotkaca, berencana hanya akan melepaskan senjata sakti itu jika berhadapan dengan Arjuna. Namun saat Duryudana menyaksikan banyaknya korban yang berjatuhan dan kerusakan di pihaknya gara-gara Gatotkaca, ia mendesak Karna melesatkan senjata pamungkas itu. Saat Adipati Karnna memanahkan Kuntawijayadanu, senjata itu terbang teramat tinggi. Kesaktian senjata itu terus memburu Gatot Kaca bagai peluru kendali, seakan dirasuki roh Paman Kalabendana yang dulu pernah dizaliminya. Sumber Gatotkaca masih ingat pelajaran dari Kumbakarna, mengenai pemusnahan sebanyak mungkin musuh sebelum mati. Maka Gatotkaca berusaha menjatuhkan diri tepat pada tubuh Adipati Karna saat ia jatuh ke Bumi. Tetapi kewaspadaan senapati Kurawa itu tak bisa dianggap remeh, karena dengan cepat ia melompat menghindar. Sumber Jatuhnya tubuh putra Bima itu memang hanya menghancurkan kereta perang, tapi semua senjata di dalamnya yang meledak malah membunuh banyak pasukan Kurawa. Pada hari ke-16 nantinya, giliran Karna yang menjadi panglima pasukan dan berhadapan dengan Arjuna. d. Tawur Demi Kemenangan Baratayuda juga membutuhkan korban tumbal sebagai syarat kemenangan tiap pihak yang berperang. Resi Ijrapa dan putranya, Rawan, sukarela menumbalkan diri sebagai korban Tawur untuk Pandawa, karena mendapat pertolongan Bima dari bahaya raksasa. Antareja sang putra Bima bersedia pula menjadi tawur, menewaskan diri sendiri dengan menjilat bekas kakinya sendiri. Sementara itu Sagotra, hartawan yang punya hutang budi kepada Arjuna juga ingin berkorban bagi Pandawa. Namun ia malah terkena tipu muslihat Kurawa, dan dipaksa menjadi tawur bagi mereka. Meski menolak mentah-mentah, akhirnya Dursasana membunuhnya sebagai tawur pihak Kurawa. 8. Akhir Perang Bharatayudha Intervensi Krishna Sumber Dalam Baratayudha versi wayang, telah banyak kematian akibat keganasan ajian Candabirawa dari Prabu Salya di Padang Kuruksetra. Sebagai titisan Bathara Wisnu Prabu Kresna menyikapi itu dengan memerintahkan Yudhistira untuk menghadapinya, bersama pusaka Cakra Bagaskara, panah bermata cahaya sebagai bekalnya. Senjata itu melesat begitu cepat bak kilat, membentur tanah, terpental, dan menghunjam dada Prabu Salya yang menyepelekan kemampuan perang Yudhistira. Saat gugur Prabu Salya, seketika itu pula sepasukan raksasa kerdil dari ajian Candabirawa ikut berhenti menyerang dan musnah. Saat fajar merekah di ufuk timur palagan Kurusetra, Suyudana maju berperang menghadapi Wrekudara yang mengerikan. Kresna mengintervensi dengan isyarat pada Wrekudara untuk memukul paha Suyudana yang tersingkap. Wrekudara pun memukul paha Suyudana yang telah bertarung dengan kemuliaan tinggi hingga ia jatuh tersungkur dan merintih kesakitan. Telah hampir seluruh prajurit di kedua pihak meregang nyawa hanya tersisa tujuh senopati Pandawa yang masih hidup, di antaranya Pandawa lima, Satyaki, dan Yuyutsu. Sementara Kurawa hanya menyisakan tiga senopati, yakni Krepa, Aswatama, serta Kertawarma. Sumber Pada akhirnya Yudistira dinobatkan menjadi raja di Kuru atau Hastinapura. Ia lalu menyerahkan takhta kepada cucu Arjuna, Parikesit, usai sekian waktu mengemban tampuk kepemimpinan itu. Bersama Drupadi dan keempat saudara Pandawa, ia melaksanakan perjalanan spiritual dengan menapaki Gunung Himalaya untuk tujuan terakhir atas perjalanan hidup mereka. Sayangnya, Drupadi beserta keempat Pandawa adik-adik Yudhistira meninggal dalam pertengahan jalan. Tinggal menyisakan Yudhistira sendiri yang berhasil sampai di puncak, lalu dianugerahkan izin untuk memasuki surga oleh Bathara Dharma sebagai manusia. Rahasia Perancangan Baratayuda oleh Para Dewa Bocor Sumber Konon sebelum kelahiran Pandawa dan Kurawa, konfrontasi ini sudah ditetapkan kapan terjadinya oleh para dewata. Saat sudah hampir tertulis semua tokoh-tokoh yang akan terlibat, dua nama terakhir sedang dibahas, yakni Baladewa di pihak Kurawa dan siapa yang akan dihadapinya. Tetapi tinta yang tengah digunakan oleh para dewa malah ditumpahkan lebah putih yang tiba-tiba datang menghampur entah dari mana, membatalkan kisah Baladewa berperang. Padahal juru tulis kadewataan tinggal menggoreskan nama yang akan melawan sang Kakrasana itu. Ialah Sri Batara Kresna, yang menjelma sebagai lebah putih itu untuk menyadap sidang para dewa, sehingga ia pun tahu persis siapa saja yang akan bertemu ajalnya dalam Baratayuda. Para dewa hanya tertegun saat tahu penulisan kitab yang diberi nama Jitapsara itu ternyata disadap. Maka sebagai gantinya, Kresna harus menyerahkan Kembang Wijayakusuma, pusaka yang bisa menghidupkan orang mati. Tokoh-Tokoh yang Terlibat Sejumlah kecil tokoh yang terlibat dalam konfrontasi raksasa di medan Kuruksetra antara lain 1. Kresna Sumber Salah satu wujud reinkarnasi Dewa Wisnu dengan wajah yang tampan, favorit siapa saja. Warna kulitnya gelap âbeberapa kisah menggambarkan warna kulitnya adalah biru. Sumber Krisna menjadi ipar dari Arjuna, sejak Arjuna menikahi adiknya, Subadra. Krisna memosisikan diri agar bersikap adil dalam perang Baratayudh. Ia tak membela Pandawa secara langsung sebagai kesatria tempur, melainkan hanya mengusiri kereta Arjuna. 2. Drona Sumber Drona memang adalah mahaguru para Kurawa dan Pandawa, tapi murid yang paling disukainya adalah Arjuna. Walau kasih sayang ini tetaplah yang kedua bila dibandingkan dengan rasa kasih sayang kepada putranya sendiri, Aswatama. Drona sangat ahli dalam seni pertempuran bahkan melakukan pengembangan-pengembangan, termasuk DewÄstra. 3. Raja Wirata Wirata adalah raja yang memberi pertolongan kepada para Pandawa untuk bersembunyi dalam kerajaannya selama masa pengasingan mereka. Asalnya adalah dari Dinasti Kerajaan Matsya, yang kemudian mendirikan kerajaan baru, yakni Kerajaan Wirata. Raja Wirata punya tiga putra, antara lain Utara, Sweta, lalu Sangka. Ia juga turut-serta ke dalam perang besar di palagan Kurukshetra dengan berpihak kepada Pandawa. 4. Bhima Sumber Raden Werkudara atau Pangeran Bima adalah putra kedua Dewi Kunti dan Prabu Pandudewanata. Sumber Walau sesungguhnya ia adalah putra dari Batara Bayu, karena Pandu yang tak bisa memberi keturunan gara-gara kutukan dari Begawan Kimindama. Namun ajian Adityaredhaya milik Dewi Kunti mampu menyebabkan pasangan tersebut bisa punya keturunan. 5. Arjuna Sumber Raden Arjuna atau Janaka dalam versi pewayangan Jawa adalah putra ketiga pasangan Prabu Pandu dan Dewi Kunti. Ia kerap pula disebut Kesatria Panengah Pandawa. Sebagaimana keempat saudaranya, Arjuna pun sebenarnya adalah putra dari Dewa Indra. Menurut versi orang Jawa, Arjuna melambangkan manusia dengan tingkatan ilmu yang tinggi, tapi selalu ragu untuk bertindak. Tampak jelas sekali bukti adanya hal itu, saat ia kehilangan gairah begitu tahu akan berhadapan dengan saudara sepupu, bahkan para gurunya di medan Kuruksetra. 6. Gatot Kaca Sumber Gatotkaca sang putra Raden Bimasena Bima atau Wrekudara adalah tokoh yang tak bisa dianggap angin lalu dalam keluarga Pandawa. Sang ibu, yang berasal dari bangsa raksasa, bernama Hidimbi Arimbi. Kesatria ini dikisahkan punya kekuatan dahsyat dan luar biasa, baik fisik maupun pemahaman spiritual. Ia telah menewaskan banyak sekutu Korawa sepanjang pertempuran besar di Kurukshetra, hingga gugur oleh senjata pamungkas milik Karna. Dampak dan Buah Kelakuan Para Kesatria Sumber Para kesatria pun baru memetik buah kelakuannya sepanjang kehidupan saat dalam Bharatayuda Abimanyu yang berstatus telah menikahi Siti Sendari, malah berbohong saat melamar Dewi Utari, sang putri Wirata. Ia justru mengaku âbelumâ menikah, bahkan sampai berani bersumpah tubuhnya akan diserang dengan sangat banyak senjata, bila ia memang sudah beristri. Kalabendana, paman Gathutkaca, yang tewas saat kepalanya dipukul dikeplak tanpa sengaja oleh keponakannya sendiri, karena membenarkan bahwa Abimanyu telah menikahi Dewi Utari. Maka saat Gathut rssf menerjang medan laga, Kalabendana menitiskan diri ke senjata Kunta milik Karna dan menjemput ajal putra dari bangsa raksasa itu. Narpati Basukarna Karna yang membohongi Ramabargawa atau Begawan Parasurama dengan mengaku sebagai anak Brahmana saat akan berguru kepadanya. Usai menurunkan semua kesaktiannya dan mengetahui kebohongan itu, Parasurama menyumpahi Karna bahwa semua ilmunya tidak akan berguna ketika sudah tiba waktunya. Perbedaan Versi Cerita Beberapa perbedaan lain yang terdapat dalam Kisah Baratayuda dibanding versi India di antaranya Lokasi seluruh kisah Baratayuda mulai dari masa leluhur Dinasti Kuru sampai akhir perjalanan Pandawa dibuat seolah-olah berada di Pulau Jawa. Penambahan kisah-kisah selipan di antara rangkaian peristiwa asli yang tentunya tak ada dalam epos Mahabharata versi India, termasuk kemunculan âtokoh-tokoh kembanganâ seperti Punakawan. Kisah Kakawin Baratayudha pada gilirannya diadaptasikan ke Bahasa Jawa Baru berjudul Serat Baratayuda, oleh pujangga bernama Yasadipura I pada era Kasunanan Surakarta dulu. Sedangkan di Yogyakarta, wiracarita Baratayuda ditulis ulang menggunakan judul Serat Purwakandha pada era kepemimpinan Sri Sultan HB V. Proses penulisannya sendiri mulai 29 Oktober 1847 dan selesai pada 30 Juli 1848. Peta Peperangan Sumber Pada peta ini, cukup jelas bagaimana seseorang menempuh perjalanan dari atau ke Pancala dan Kuru. Sumber Dalam peta ini, ditunjukkan rute yang harus ditempuh bila ingin menuju Indraprastha dari Hastinapura. Sumber Dinasti Kuru bukanlah penguasa seluruh tanah India, karena masih ada sejumlah wilayah lain yang mengelilinginya. Bagaimanapun juga, peristiwa Baratayuda memang sudah ditakdirkan untuk terjadi. Dua kubu yang selalu bermusuhan harus saling bentrok di palagan Kuruksetra, antara trah Kurawa dan Pandawa, walau keduanya masih terpaut darah ikatan bersaudara. Pancawalaversi ini adalah putra Yudistir a dan Drupadi. Menurut Mulyono dalam artikelnya yang berjudul Dewi Dropadi: Antara kitab Mahabh arata dan Pewayangan Jawa, menyatakan bahwa terjadinya perbedaan cerita antara kitab Mahabharata dengan versi pewayangan Jawa adalah karena pengaruh perkembangan agama Islam[1]. BAGI masyarakat Jawa,kehidupan sehari-hari adalah senatiasa terbentuk dan memiliki kaitan terhadaptiga hal yang saling berkelindan. Hubungan sesama manusia, hubungan manusia dengan alam, serta hubungan manusia dengan Tuhan adalah tiga serangkai elemen kehidupan sehari-hari yang dimaksud. Pemahaman semacam tadi selaras dengan konsep Tri Hita Karana tiga sumber kebahagiaan yang berakar dari zaman Jawa Kuna dan hingga kini masih berkembang dalam masyarakat Bali yang melestarikan ajaran Hindu. Memiliki pula keselarasan dengan konsep khalifah dalam ajaran Islam yang dikenal lebih belakangan oleh masyarakat Jawa. Pemahaman tersebut menegaskan bahwa dalam kondisi apapun, manusia di alam semesta tidak bisa dilepaskan dan memang menjalani hidup yang bergerak menuju kepada Sang Ilahi. Dalam masyarakat Jawa, ini dikenal sebagai konsep sangkan paraning dumadi. Apa yang dituliskan oleh KGPAA Mangkunegara IV dalam bait I Serat Wedhatama sedikit banyak dapat menggambarkan spirit ideal tersebut . Kang tumrap neng tanah Jawa agama ageming aji. Bagi mereka yang mendiami tanah Jawa, agama adalah berguna sebagai penentu martabat Dalam menyampaikan pesan atau petuah moral, orang Jawa seringkali memakai narasi karya sastra ataupun cerita tutur, yang sering kali merupakan narasi-narasi yang berakar dari zaman Jawa Kuna dengan banyak warna pengaruh Hindu-Buddha bersenyawa di dalamnya. Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java menegaskan bahwa Islam yang datang ke Jawa pun tidak sanggup menghapus konsep ini. Bahkan Raffles sendiri mengakui dirinya tidak mampu memahami ruang batin dan logika binner orang Jawa. P. Swantoro dalam Dari Buku ke Buku 2016 mengatakan bahwa melalui kajian karya sastra dapat diketahui cara berpikir para pujangga yang mewakili orang Jawa kala itu. Sementara bila berbicara tentang karya sastra, Zoetmulder dalam Kalangwan 1983 menggambarkan bahwa karya sastra di Jawa telah berkembang sejak masa Jawa Kuna atau masa dominasi Hindu/Buddha. Secara historis, karya sastra warisan Jawa Kuna tidak pula terlepas dari pengaruh India. Namun,oleh masyarakat Jawa dengan kearifan lokalnya, karya-karya sastra India digubah dan ditulis pujangga Jawa sesuai dengan alam berpikir masyarakat Jawa. Bahkan hal ini memengaruhi tradisi tulis di Jawa dengan munculnya aksara dan bahasa Jawa Kuna yang merupakan salah satu dialek bahasa pribumi di Jawa. Ramayana Salah satu karya sastra India yang digubah ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan bahkan disesuaikan kepada latar budaya Jawa adalah epos Ramayana. Di Jawa, cerita ini digubah pujangga Jawa menjadi bentuk kakawin dan ditulis dalam bahasa Kawi maupun Jawa Baru. Cerita ini biasanya ditampilkan dalam seni wayang, sendratari, bahkan dipahatkan dalam relief candi seperti Candi Prambanan dan Candi Panataran. Secara keseluruhan, wiracarta Ramayana di Jawa sama dengan India, yaitu berkisah tentang Rama, awatara Wisnu dalam wujud ksatria, yang menjalani pengembaraan selama 14 tahun, kehilangan Sinta sang istri yang diculik oleh raja raksasa Rahwana dari Alengka, sampai akhirnya dengan bantuan bala tentara kera pimpinan Sugriwa dan Hanoman harus memerangi seisi Alengka untuk merebut kembali Sinta. Hanya saja, cerita Ramayana versi Jawa berhenti di bagian Sinta diboyong kembali ke Ayodya dan Rama dinobatkan menjadi Raja. Itulah alasannya cinta luar biasa Rama-Sinta sering menjadi inspirasi setiap pasangan. Itu tadi beda dengan Ramayana asli versi India. Sekembalinya Rama dan Sinta ke Ayodya, mereka setelah beberapa lama hidup bersama akan lantas berpisah kembali selama bertahun-tahun. Itu terjadi karena beredarnya desas-desus di antara rakyat Ayodya yang meragukan kesucian Sinta selama tinggal di Istana Alengka. Alhasil, Sinta sampai harus bermukim di hutan dan melahirkan maupun membesarkan sepasang anak kembarnya, Lawa dan Kusya, di sana. Bharatayuddha Lakon akbar lain dari India yang digubah ke latar budaya adalahMahabharata. Penggubahannya pun memunculkan banyak versi yang fokus kepada salah satu bagian di antara contohnya adalah Arjunawiwaha, Bharatayuddha, Hariwangsa, Krsnayana, Ghatotkacasraya, hingga Sudamala. Namun, dari sekian banyak sastra gubahan atas Mahabharata, Bharatayuddha adalah satu yang terpenting. Ini antara lain karena kakawin tersebut fokus kepada fragmen terpenting dari Mahabharata, yakni perang besar kubu Pandawa dan Kurawa di Padang Kurusetra, yang merupakan pula klimaks dari keseluruhan alur cerita Mahabharata. Bharatayuddhaberarti âPerang [Wangsa] Bharata. Cerita tersebuti ditulis tahun 1157 oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, atas perintah Maharaja Jayabhaya dari Kediri. Konon sebagai simbol keadaan perang saudara antara Kediri dengan sesama cabang Wangsa Isyana, yakni Janggala. Sebagaimana dipaparkan Zoetmulder dalam Kalangwan, Bharatayuddadibuka dengan kisah Krisna menjadi duta pihak Pandawa yang mendatangi Istana Hastinapura untuk berunding dengan kubu Kurawa. Sayangnya, proposal perdamaian yang diajukan Krisna ditolak dan bahkan dihina pihak Kurawa, menjadikan perang di Kurusetra tak lagi bisa terhindarkan. Cerita kemudian berlanjut dengan penggambaran hari demi hari peperangan di Padang Kurusertra. Itu mulai dari ketika Sweta alias Seta menjadi panglima pihak Pandawa, sedangkan Bhisma menjadi panglima pihak Kurawa. Dipungkasi dengan rangkaian perang tanding Bima melawan Duryudana, aksi gerombolan Aswatama melakukan serangan tengah malam ke perkemahan pihak Pandawa, lalu perjalanan menuju surga yang dilakukan oleh Krisna dan lima bersaudara Pandawa. Bharatayuddayang berbahasa Kawi kemudian diadaptasi ke bahasa Jawa Baru dengan judul Serat Bratayuddha. Penggubahan selanjutnya ini dikerjakan oleh pujangga Yasadipura I pada zaman Kasunanan Surakarta. Dalam waktu kurang lebih beriringan, Bharatayuddha ditulis ulang dengan judul Serat Purwakandha oleh pujangga Kasultanan Yogyakarta pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana V. Penulisan ulangnya dimulai tanggal 29 Oktober 1847 hingga 30 Juli 1848. * BaikRamayana versi Jawa maupun Bharatayuddha selaku kakawin terpenting di antara sekian gubahan Mahabharatapada dasarnya mengandung suatu pesan moralpengingat bahwa harapan itu selalu ada, meski kesulitan datang silih berganti. Alang-alang dudu aling-aling margining keutamaan. Demikian sepenggal petuah bijak yang dikenal orang Jawa dalam hal memandang masalah dan dalam kehidupan semestinya tidak dilihat sebagai penghambat, tetapi justru menjadi jalan bagi kesempurnaan. Jadi jangan sampai ada pemikiran untuk lari dari permasalahan. Hadapilah dan selesaikan secara tuntas. Apapun hasilnya pasrahkan pada Yang Maha Kuasa. Bagi orang Jawa yang kini mayoritas menganut Islam, pesan moral seperti di atas tentu dapat pula dikenal selaras dengan apa yang ada dalam QS. Al-Insyirah 5-6 âKarena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. â DAFTAR PUSTAKA Iyegar, Kodaganallur R. Srinivasa. Asian Variations in Ramayana. Papers Presented at the International Seminar on Variations in Ramayana in Asia Their Cultural, Social, and Anthropological Significance, New Delhi, Januari 1981. Jatmiko, Adityo. 2015. Tafsir Ajaran Serat Wedhatama. Yogyakarta Pura Pustaka. Poerbatjaraka, Prof. Dr. 1952. Kapustakaan Djawi. Jakarta Djambatan. Raffles, Thomas Stamford. 2015. The History of Java. Yogyakarta Narasi. Riyanto, Mas. 2018. Bharatayuda Jayabinangun. Uwais Inspirasi Indonesia. Swantoro, Pollycarpus. 2016. Dari Buku ke Buku. Jakarta Kepustakaan Populer Gramedia. Zoetmulder, 1983. Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta Djambatan. Upayamenjaring kaum muda tak hanya disuguhkan Ki Bambang Asmoro dengan menggunakan konsep Pakeliran Padat. Namun juga lewat kolaborasi dengan bidang seni lainnya. Meski demikian, penggunaan bahasa Jawa klasik tetap dirasa menjadi kendala, walaupun dari sisi aspek rasa, memang lebih mantap menonton pertunjukan wayang dalam versi bahasa aslinya. Uploaded byM Yusuf Dali 0% found this document useful 0 votes1K views7 pagesCopyright© Attribution Non-Commercial BY-NCAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?Is this content inappropriate?Report this Document0% found this document useful 0 votes1K views7 pagesBaratayudaUploaded byM Yusuf Dali Full descriptionJump to Page You are on page 1of 7Search inside document You're Reading a Free Preview Pages 4 to 6 are not shown in this preview. Buy the Full Version Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.